Janganlah
kita iri hati atas kemampuan dan kelebihan orang lain, jikalau mereka
bisa, saya yakin kitapun pasti bisa pula. Jangan sekali-kali kita
remehkan diri ini, karena ternyata kitapun lebih kuat dari apa yang kita
bayangkan, namun diri ini tak menyadari akan sebuah kekuatan itu.
Yakinlah !!! Jikalau diri ini memiliki sebuah tekad mulia, maka sungguh pasti Allah akan tunjukkan arah petunjuk jalan dan berikan kemudahan untuk menggapainya. Allahu 'inda dzhonni abdi by" Allah akan selalu senantiasa bersama sesuai dengan perasangka hamba-Nya.
Bulatkan tekad !!! Singkirkan dan jauhkanlah diri ini dari perasaan tak mampu dan perasaan mengingkari akan datangnya sebuah pertolongan Allah subhanahu wata'ala untuk hambanya yang mau berusaha
"La tahzan !!! Innallaha ma'ana" Janganlah sekali-kali kita bersedih hati dan pesimis dikarenakan ada sebuah kekurangan diri yang ada pada kita, namun percayalah !!! asal ada sebuah tekad, usaha, dan perjuangan yang diiringi dengan do'a sesungguhnya Allah bersama kita.
"Allah merahasiakan bagi hamba-Nya tentang masa depan, untuk menguji kita agar senantiasa berprasangka baik kepada-Nya, merencanakan dengan baik segala derap langkah amalan dan aktifitas kita, selalu berupaya dan berjuang yang terbaik, dan tentunya agar kita senantiasa bersyukur terhadap nikmat kehidupan yang telah Allah berikan, dan senantiasa bersabar terhadap berbagai macam problema kehidupan yang kita hadapi. Allah memberikan ujian dan menguji kita, karena Ia maha tahu bahwa kita mampu dan bisa untuk meghadapi serta mengemban amanat suci ujian yang telah diberikan-Nya".
Allahlah yang telah menjamin. Keberhasilan tidaklah selamanya diartikan sesempit kita dalam menilai dan memahaminya, Allah maha tahu hakikat dari sebuah keberhasilan terhadap hamba-Nya.
"Menyerah dan putus asa itu sangatlah mudah untuk dilakukan. Tetapi, jadilah pribadi yang kuat, yang terus berjuang dan memiliki sebuah tekad serta kesungguhan, bahkan dalam keadaan yang kurang menguntungkan sekalipun kita dituntut untuk tetap berusaha, berupaya, istiqomah serta bertawakkal"
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan sebuah tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (ali 'imron : 159)
Man jadda Wajada" Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan medapatkan apa yang ia tekadkan. Dia akan berhasil, tentunya dengan pertolongan Allah dan sesuai dengan kadar kesungguhan serta usahanya dalam mengupayakan sebuah tekad yang dimilikinya.
Selera Manusia, penilaian manusia, dan pilihan Bukanlah Menjadi Standar Allah atas sebuah kebaikan, kesuksesan dan keberhasilan
Hukum Allah tidak semuanya harus sesuai dengan selera dan harapan manusia.
Penilaian Allah amat sangatlah berbeda dengan penilaian manusia. Boleh jadi menurut kita itu adalah sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, tetapi menurut Allah belum tentulah sama. Begitupula sebaliknya
“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu tidak kalian sukai, bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).
Siapakah yang lebih mengetahui. Kita ataukah Allah???
=> Allah lah yang Maha Mengetahui.
siapakah yg menutup hati seseorang dan membukanya ? Jika tertutup hati seseorang, yang salah orang itu, atau yg menutupnya ?
=> Akal dan Logika lah yang harus dan wajib mengikuti sebuah dalil dan Syariat Allah, Bukan sebaliknya Syariat yang harus mengikuti Akal serta Logika. Yang akhirnya mereka (orang-orang yang memiliki Akal dan Logika) akan meremehkan esensi makna yang dikandung dari Syariat tersebut. Maka iapun akan beribadah semaunya (yang penting masuk akal), berfikir semaunya dll. Padahal tidaklah semuanya dapat diukur oleh Akal semata (akal fikiran dan pengetahuan manusia terbatas). Kewajiban kita hanyalah mengimaninya, taat dan mengamalkanya, bukanlah selalu mempertanyakan apa ini apa itu. Wallahul musta'an...
Ali bin abi thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan:
"Seandainya sebuah syariat agama itu semuanya dapat diukur oleh akal manusia, maka dalam syariat perintah mengusap khuffain pada bagian bawahnya itu lebih utama daripada mengusap pada bagian atasnya" (Maka sungguh akal manusia itu amatlah sangat terbatas)
Tolak ukur Syariat adalah sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya. Loyalitas penuh kepada Kedua-Nya. Maka Yang bertentangan bukanlah Syariat, karena selamanya Syariat tak akan pernah bertentangan. Ada Hikmahnya !!!. Mereka Bukan Menuhankan dan Meng-Ilahkan Allah, tetapi malah sebaliknya menjadikan Akal dan Logika sebagai tuhannya. (MengLoyalitaskan diri kepada Akal semata) tanpa dilandasi dengan dua landasan yang ma'shum (Al Qur'an Dan Al Hadits). Wal Iyadzu Billah...
# Catatan Seorang Sahabat
Madinah, Selasa (21/05/13)
Yakinlah !!! Jikalau diri ini memiliki sebuah tekad mulia, maka sungguh pasti Allah akan tunjukkan arah petunjuk jalan dan berikan kemudahan untuk menggapainya. Allahu 'inda dzhonni abdi by" Allah akan selalu senantiasa bersama sesuai dengan perasangka hamba-Nya.
Bulatkan tekad !!! Singkirkan dan jauhkanlah diri ini dari perasaan tak mampu dan perasaan mengingkari akan datangnya sebuah pertolongan Allah subhanahu wata'ala untuk hambanya yang mau berusaha
"La tahzan !!! Innallaha ma'ana" Janganlah sekali-kali kita bersedih hati dan pesimis dikarenakan ada sebuah kekurangan diri yang ada pada kita, namun percayalah !!! asal ada sebuah tekad, usaha, dan perjuangan yang diiringi dengan do'a sesungguhnya Allah bersama kita.
"Allah merahasiakan bagi hamba-Nya tentang masa depan, untuk menguji kita agar senantiasa berprasangka baik kepada-Nya, merencanakan dengan baik segala derap langkah amalan dan aktifitas kita, selalu berupaya dan berjuang yang terbaik, dan tentunya agar kita senantiasa bersyukur terhadap nikmat kehidupan yang telah Allah berikan, dan senantiasa bersabar terhadap berbagai macam problema kehidupan yang kita hadapi. Allah memberikan ujian dan menguji kita, karena Ia maha tahu bahwa kita mampu dan bisa untuk meghadapi serta mengemban amanat suci ujian yang telah diberikan-Nya".
Allahlah yang telah menjamin. Keberhasilan tidaklah selamanya diartikan sesempit kita dalam menilai dan memahaminya, Allah maha tahu hakikat dari sebuah keberhasilan terhadap hamba-Nya.
"Menyerah dan putus asa itu sangatlah mudah untuk dilakukan. Tetapi, jadilah pribadi yang kuat, yang terus berjuang dan memiliki sebuah tekad serta kesungguhan, bahkan dalam keadaan yang kurang menguntungkan sekalipun kita dituntut untuk tetap berusaha, berupaya, istiqomah serta bertawakkal"
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan sebuah tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (ali 'imron : 159)
Man jadda Wajada" Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan medapatkan apa yang ia tekadkan. Dia akan berhasil, tentunya dengan pertolongan Allah dan sesuai dengan kadar kesungguhan serta usahanya dalam mengupayakan sebuah tekad yang dimilikinya.
Selera Manusia, penilaian manusia, dan pilihan Bukanlah Menjadi Standar Allah atas sebuah kebaikan, kesuksesan dan keberhasilan
Hukum Allah tidak semuanya harus sesuai dengan selera dan harapan manusia.
Penilaian Allah amat sangatlah berbeda dengan penilaian manusia. Boleh jadi menurut kita itu adalah sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, tetapi menurut Allah belum tentulah sama. Begitupula sebaliknya
“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu tidak kalian sukai, bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).
Siapakah yang lebih mengetahui. Kita ataukah Allah???
=> Allah lah yang Maha Mengetahui.
siapakah yg menutup hati seseorang dan membukanya ? Jika tertutup hati seseorang, yang salah orang itu, atau yg menutupnya ?
=> Akal dan Logika lah yang harus dan wajib mengikuti sebuah dalil dan Syariat Allah, Bukan sebaliknya Syariat yang harus mengikuti Akal serta Logika. Yang akhirnya mereka (orang-orang yang memiliki Akal dan Logika) akan meremehkan esensi makna yang dikandung dari Syariat tersebut. Maka iapun akan beribadah semaunya (yang penting masuk akal), berfikir semaunya dll. Padahal tidaklah semuanya dapat diukur oleh Akal semata (akal fikiran dan pengetahuan manusia terbatas). Kewajiban kita hanyalah mengimaninya, taat dan mengamalkanya, bukanlah selalu mempertanyakan apa ini apa itu. Wallahul musta'an...
Ali bin abi thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan:
"Seandainya sebuah syariat agama itu semuanya dapat diukur oleh akal manusia, maka dalam syariat perintah mengusap khuffain pada bagian bawahnya itu lebih utama daripada mengusap pada bagian atasnya" (Maka sungguh akal manusia itu amatlah sangat terbatas)
Tolak ukur Syariat adalah sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya. Loyalitas penuh kepada Kedua-Nya. Maka Yang bertentangan bukanlah Syariat, karena selamanya Syariat tak akan pernah bertentangan. Ada Hikmahnya !!!. Mereka Bukan Menuhankan dan Meng-Ilahkan Allah, tetapi malah sebaliknya menjadikan Akal dan Logika sebagai tuhannya. (MengLoyalitaskan diri kepada Akal semata) tanpa dilandasi dengan dua landasan yang ma'shum (Al Qur'an Dan Al Hadits). Wal Iyadzu Billah...
# Catatan Seorang Sahabat
Madinah, Selasa (21/05/13)




